Senin, 21 Januari 2019

Debat Pilpres, Siapa Caleg Koruptor?


Penulis : Salim Abdurrahman (Mahasiswa FSH UIN-SU/Departemen PPPA HMI Komisariat FSH UIN-SU)
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi  Wabarakatuh
Beberapa hari belakangan debat pilpres 2019 yang di adakan oleh KPU pada kamis (17/1) menjadi pembicaraan hangat warga Indonesia, pasalnya Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo mempertanyakan komitmen calon presiden nomor urut 02 dalam pemberantasan korupsi.
“Menurut data dari ICW, partai yang bapak pimpin, termasuk yang paling banyak mencalonkan mantan koruptor atau mantan narapidana korupsi, yang saya  tau, caleg itu yang tanda tangan ketua umumnya. 
Berarti pak Prabowo yang tanda tangan. Bagaimana bapak menjelaskan mengenai ini? “ Tanya Jokowi.
Prabowo terlihat kaget atas pernyataan yang langusung ditujukan kepadanya sebagai ketua umum dari partai gerindra. Ia mengatakan belum mendapat laporan tentang itu. 
Ia juga mengatakan data dari ICW tersebut sangat subjektif.
Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis nama-nama colon anggota legesiatif yang merupakan mantan napi koruptor, berikut datanya :
1. Golkar (7 orang)
2. Gerindra (6 orang)
3. Hanura (5 orang)
4. Demokrat (4 orang)
5. Partai Berkarya (4 orang)
6. PAN (4 orang)
7. Nasdem (2 orang)
8. Partai Gruda (2 orang)
9. Perindo (2 orang)
10. PKPI (2 orang)
11. PDIP (1 orang)
12. PKS (1 orang)
13. PBB (1 orang)
Padahal Mahkamah Agung telah medudukan dalam putusannya yaitu memperbolehkan mantan narapidana korupsi untuk mencalonkan diri sebagai caleg. 
Seperti diketahui, MA telah memutus uji  materi pasal 4 ayat (3) paraturan komisi pemilihan umum (PKPU) UU nomor 20 tahun 2018 tentang pencalonan anggota DPR dan DPRD Kabupaten/Kota pada Kamis (13/9/2018). Majelis Hakim Agung, yang di Ketuai Irfan Fachrudin beranggotakan Yodi Martono dan Supandi dengan nomor perkara 45 P/HUM/2018 yang di mohonkan Wa Ode Nurhayati, menilai Peraturan KPU tersebut bertentangan dengan pasal 240 ayat (1) huruf g UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu.
Tetapi seperti yang kita ketahui maraknya kasus korupsi yang terjadi di saat ini yang kebanyakan dilakukan oleh pejabat publik yang menyalah gunakan kekuasaan.  Fenomena tersebut telah jelas bahwasanya terjadi penghiantan terhadap amanat rakyat, oleh sebab itu timbulah upaya progresif dari KPU yaitu berupa pencabutan hak politik.
E Utrecht dalam bukunya yang berjudul bahan ajar hukum pidana dalam halaman 149 mengatakan “Bahwah hukum pidana merupakan hukum dengan sanksi istimewa, makna sanksi hukum istimewa adalah dimana hukum dalam pencapaian tujuannya dapat mereduksi hak asasi manusia.
Namun pakar hukum pidana dunia Ronald Dworkin dalam buku filsafat hukum nya yang berjudul Taking Rigth Seriously mengatakan “Hak asasi tidak bisa dibatasi, bahkan 100 dendam masyarakat di luar sana lantas tidak memberikan legitimasi bagi negara untuk memberikan hukuman tambahan bagi mereka yang telah di masyarakatkan”.
Padahal Jokowi sendiri pun dalam ucapannya saat ditanyakan ia setuju terhadap mantan napi kopusi yang menjadi caleg kembali atas dasar Hak.
“Ya itu hak ya, konstitusi memberikan hak” ucap jokowi usai acara pengajian ramadhan yang di gelar oleh PP Muhammadiyah di Uhamka, Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (29/5/2018).
Penulis Salim Abdurrahman (Pemenang ke III Lomba Debat Konstitusi FSH UIN-SU)

Jumat, 14 Desember 2018

PEMIMPI(N) KEJAYAAN


        Ket. Gambar : Petahana & Penantang
Tulisan created by : Muhammad Najib (Mahasiswa UIN-SU Medan)
Sejumlah besar catatan sejarah menilai bahwa, kejayaan suatu negeri ketika dipimpin oleh pemimpin yang mencintai Ilmu pengetahuan.

Kajayaan Turki Utsmani ketika dipimpin oleh Sultan Sulaiman Raja yang mencintai ilmu, rajin membaca, cakrawala luas dan cerdas.

Masa Abbasiyah, ada Harun Ar Rasyid, beliau pada masanya cerita seribu malam di Bagdad, pendiri baitul hikmah (gudang ilmu pengetahuan) dan pada masanya para penuntut ilmu, ulama sangat dihargai oleh penguasa, karenanya dibayar mahal dengan kejayaan negeri yang dipimpinnya.

Masa Umayyah ada Khalifah yang sangat taat dan pencinta ilmu, Umar bin Abdul Aziz, beliau hanya sekitar 3 tahun berkuasa tetapi semua rakyatnya disejahterakan, bahkan sejarah mencatat tidak ada lagi rakyat yang mau memerima sedekah.
Cerita masa dahulu yang diangkat dalam Al Qur'an, pemimpin yang dipilih oleh Allah, adalah karena memiliki Ilmu dan hikmah.

Nabi Sulaiman dan Daud penguasa yang luar biasa, mencatat kejayaa gilang-gemilang, karena beliau dibekali Ilmu.

"Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya berkata, "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman." (An Naml: 15) 

Penguasa Thalut yang dianugerahi kerajaan, juga karena mempunyai kelebihan ILMU.
Dan nabi mereka berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab, "Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?" (Nabi) menjawab, "Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.


" Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS. 2: 247)

Imam Al Mawardi dalam bukunya menulis, bahwa calon pemimpin itu harus memiliki ilmu yang mendalam. Bagaimana dengan calon pemipin di Indonesia? Kita menjumpai dua Tokoh Bangsa yang maju sebagai kandidat biasa disebut Petahana VS Penantang. Mereka sama-sama Visioner, sama-sama tangguh, memiliki keberanian dan etos kerja yang mempuni.

Misalnya Sang Penantang yang merupakan pencinta Ilmu, pada masanya saat menjadi militer ia berhasil banyak menakhlukan beberapa daerah-daerah dari tangan-tangan agresi militer Belanda, selepas menjadi militer ia mencoba menggeluti dunia bisnis dengan belajar secara otodidak ternyata berhasil lalu setelahnya ia mempelajari ilmu baru yakni tentang pertanian.
Petani di beberapa daerah di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan berhasil di up grade pengetahuannya, setelah itu apa yang terjadi, para petani mengalami peningkatan pendapatan berkali-kali lipat dibanding sebelum memiliki pengetahuan.

Petani adalah entitas terbesar di Republik ini, tentu harus menempati urutan pertama soal prioritas, sampai Beliau berujar, "Kita harus mewujudkan Kemerdekaan Pangan diatas segala-galanya, setelahnya Pendidikan dan Ekonomi".

Penantang juga memiliki gelar Bapak Tani karena ia pernah dipercaya menjadi Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Periode 2004-2009 & itu merupakan ciri diantara sekian ciri pencinta ilmu.

Sumber daya alam yang melimpah ini tentu lebih berdaya guna jika mendapat sentuhan oleh pemimpin yang mempunyai kreativitas pengetahuan yang lebih.
Ilmu yang menyatu dengan kekuasaan akan melahirkan kesejahteraan kata Anis Matta, sebaliknya Kebodohan yang menyatu dengan kekuasaan akan melahirkan kediktatoran.

Oleh karena itu, memilih pemimpin yang mencintai Ilmu pengetahuan adalah keniscayaan, sejarah Qur'an sudah menginformasikan, sejarah kejayaan masa lalu juga mencatat, dan sekarang kita mau menulis sejarah kejayaan kita yang akan datang.

Jikalau sudah tershare sarung, uang, menjelang malam pemilihan, maka ada baiknya tolaklah demi keutuhan dan idealisme kita sebagai pemilih.
Jangan lupa share tulisan ini sebagai sedekah di awal pagi ini, paling tidak sudah membaca 1 atau 2 ayat pada tulisan ini.
Semoga Allah menganugerahi negeri ini pemimpin yang mencintai Allah, mencintai rakyat dan kitapun mencintainya.

Salam Indonesia Adil Makmur.
                   Penulis : Muhammad Najib

Selasa, 20 November 2018

Makhluk Aneh

Kekuasaan Tuhan yang tak bertepi, namun masih ada yang mencoba mengimbangi-Nya.
Dataran, Lautan, Tebing dan seluruh nya memuji Tuhan, namun satu makhluk itu tidak demikian.
Mungkin kekuasaan yang ada Padanya membuatnya khilaf melupakan yang memberinya kuasa dan kekuasaan.

Oh Tuhan (gumam Lautan)...
Apa ku sebarkan saja diriku untuk menghantam makhluk itu..
Tuhan tersenyum (jangan).
 Tuhan : "ia sedang lupa, aku yakin ia pasti kembali ke jalan yang benar".

Makhluk inipun semakin aneh tingkahnya karena telah merasa punya segalanya, namun apalah daya.
Kekuasaan yang ada padanya hanya semua dan berujung.
Sesekali bolehlah sombong dan angkuh, namun pasti kena batunya juga (gumam gunung-gunung).

"Kami saja makhluk yang lebih dari duluan darinya saja tidak seperti itu, padahal kami lebih mampu untuk sombong karena setiap sudut bumi dan langit bisa kami lihat", menerangkan demikian burung-burung itu (makhluk Tuhan yang lain).

Tahukah kalian siapa makhluk Tuhan yang aneh itu?
Itulah Manusia.
Iya Manusia...
Manusia makhluk Tuhan kemarin sore yang lagaknya seperti penguasa sejati alam dan semesta.
Bagaimana congkak dan zalimnya makhluknya ini..
Semua mau dikuasai, semua mau diambil..
Dan aneh memang padahal kekuasaannya hanya sebesar sayap nyamuk disisi Tuhannya.

Ketika semua makhluk bertasbih, beribadah dan mengabdi kepada Tuhan, namun makhluk aneh ini malah seenaknya melupakan Tuhan yang telah menciptakan ia lebih sempurna dari pada makhluk-makhluk lainnya.

Tuhan..
Hinakan saja semua manusia (gumam Tanah), namun Tuhan lagi-lagi senyum dan berkata : "Jangan kelak ia akan kembali ke jalan yang benar".