Ket. Gambar : Petahana & Penantang
Tulisan created by : Muhammad Najib (Mahasiswa UIN-SU Medan)
Sejumlah besar catatan sejarah menilai bahwa, kejayaan suatu negeri ketika dipimpin oleh pemimpin yang mencintai Ilmu pengetahuan.
Kajayaan Turki Utsmani ketika dipimpin oleh Sultan Sulaiman Raja yang mencintai ilmu, rajin membaca, cakrawala luas dan cerdas.
Masa Abbasiyah, ada Harun Ar Rasyid, beliau pada masanya cerita seribu malam di Bagdad, pendiri baitul hikmah (gudang ilmu pengetahuan) dan pada masanya para penuntut ilmu, ulama sangat dihargai oleh penguasa, karenanya dibayar mahal dengan kejayaan negeri yang dipimpinnya.
Masa Umayyah ada Khalifah yang sangat taat dan pencinta ilmu, Umar bin Abdul Aziz, beliau hanya sekitar 3 tahun berkuasa tetapi semua rakyatnya disejahterakan, bahkan sejarah mencatat tidak ada lagi rakyat yang mau memerima sedekah.
Cerita masa dahulu yang diangkat dalam Al Qur'an, pemimpin yang dipilih oleh Allah, adalah karena memiliki Ilmu dan hikmah.
Nabi Sulaiman dan Daud penguasa yang luar biasa, mencatat kejayaa gilang-gemilang, karena beliau dibekali Ilmu.
"Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya berkata, "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman." (An Naml: 15)
Penguasa Thalut yang dianugerahi kerajaan, juga karena mempunyai kelebihan ILMU.
Dan nabi mereka berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab, "Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?" (Nabi) menjawab, "Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.
" Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS. 2: 247)
Imam Al Mawardi dalam bukunya menulis, bahwa calon pemimpin itu harus memiliki ilmu yang mendalam. Bagaimana dengan calon pemipin di Indonesia? Kita menjumpai dua Tokoh Bangsa yang maju sebagai kandidat biasa disebut Petahana VS Penantang. Mereka sama-sama Visioner, sama-sama tangguh, memiliki keberanian dan etos kerja yang mempuni.
Misalnya Sang Penantang yang merupakan pencinta Ilmu, pada masanya saat menjadi militer ia berhasil banyak menakhlukan beberapa daerah-daerah dari tangan-tangan agresi militer Belanda, selepas menjadi militer ia mencoba menggeluti dunia bisnis dengan belajar secara otodidak ternyata berhasil lalu setelahnya ia mempelajari ilmu baru yakni tentang pertanian.
Petani di beberapa daerah di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan berhasil di up grade pengetahuannya, setelah itu apa yang terjadi, para petani mengalami peningkatan pendapatan berkali-kali lipat dibanding sebelum memiliki pengetahuan.
Petani adalah entitas terbesar di Republik ini, tentu harus menempati urutan pertama soal prioritas, sampai Beliau berujar, "Kita harus mewujudkan Kemerdekaan Pangan diatas segala-galanya, setelahnya Pendidikan dan Ekonomi".
Penantang juga memiliki gelar Bapak Tani karena ia pernah dipercaya menjadi Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Periode 2004-2009 & itu merupakan ciri diantara sekian ciri pencinta ilmu.
Sumber daya alam yang melimpah ini tentu lebih berdaya guna jika mendapat sentuhan oleh pemimpin yang mempunyai kreativitas pengetahuan yang lebih.
Ilmu yang menyatu dengan kekuasaan akan melahirkan kesejahteraan kata Anis Matta, sebaliknya Kebodohan yang menyatu dengan kekuasaan akan melahirkan kediktatoran.
Oleh karena itu, memilih pemimpin yang mencintai Ilmu pengetahuan adalah keniscayaan, sejarah Qur'an sudah menginformasikan, sejarah kejayaan masa lalu juga mencatat, dan sekarang kita mau menulis sejarah kejayaan kita yang akan datang.
Jikalau sudah tershare sarung, uang, menjelang malam pemilihan, maka ada baiknya tolaklah demi keutuhan dan idealisme kita sebagai pemilih.
Jangan lupa share tulisan ini sebagai sedekah di awal pagi ini, paling tidak sudah membaca 1 atau 2 ayat pada tulisan ini.
Semoga Allah menganugerahi negeri ini pemimpin yang mencintai Allah, mencintai rakyat dan kitapun mencintainya.
Salam Indonesia Adil Makmur.
Penulis : Muhammad Najib


Tidak ada komentar:
Posting Komentar